Wali Kota Makassar berbagi Ilmu Kelola Sampah Terintegrasi dengan Bupati Sigi
4 min read
Bupati Sigi Muh. Rizal Intjenae (kanan) bersama Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin usai bertemu di Makassar, Jumat (2/1/2026). (Foto: Humas Diskominfo Makassar)
Majesty.co.id, Makassar — Upaya Pemerintah Kota Makassar dalam membangun sistem pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu hingga hilir kembali menarik perhatian daerah lain.
Kali ini, Pemerintah Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, melakukan kunjungan resmi untuk mempelajari praktik pengelolaan sampah yang dinilai berhasil dan berkelanjutan.
Kunjungan tersebut dipimpin langsung Bupati Sigi, Mohammad Rizal Intjenae dan diterima Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di Balai Kota Makassar, Jumat (2/1/2026).
Rizal Intjenae menilai Kota Makassar mampu mengelola persoalan persampahan secara mandiri, sistematis, dan terintegrasi, mulai dari pemilahan di sumber hingga pemanfaatan akhir.
“Kami ke sini, silaturahmi. Juga menjajaki kerjasama pengelolaan sampah. Tentu kami ingin menerapkan di Sigi,” jelas Rizal Intjenae.
Ia mengatakan, kunjungan tersebut bertujuan membuka peluang kolaborasi, khususnya dalam pengelolaan sampah plastik yang telah dikembangkan Pemkot Makassar melalui berbagai inovasi, salah satunya program Gerakan Mengelola Sampah (GEMA).
“Saya datang ke sini, ketemu Pak Wali, untuk mencoba menjajaki kerja sama. Karena saya melihat langsung bagaimana perkembangan pengelolaan sampah plastik di Makassar yang diolah melalui program GEMA dan inovasi lainnya,” ujarnya.
“Kita tahu bersama, dari semua jenis sampah, plastik adalah yang paling sulit terurai dan membutuhkan waktu sangat lama. Dan itu sudah diterapkan oleh pak Wali Munafri di Kota Makassar,” tambah Rizal.
Rizal menjelaskan, Pemkab Sigi berencana memberdayakan sampah plastik agar memiliki nilai tambah ekonomi, terutama bagi petugas kebersihan dan masyarakat sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Bagaimana sampah plastik ini bisa kami berdayakan di Sigi. Kami punya TPA, bahkan lahannya kurang lebih 40 hektare. Kalau bisa dikelola dengan baik, sampah plastik ini bisa menambah pundi-pundi pendapatan bagi para pekerja kebersihan kami,” jelasnya.
Ia juga tertarik mengembangkan pengolahan sampah plastik menjadi energi atau produk bernilai ekonomi, baik melalui pembangunan fasilitas pengolahan di TPA maupun kerja sama dengan investor.
“Pengelolaan sampah di Sigi sebenarnya sudah berjalan, kami sudah punya TPA. Tinggal bagaimana sampah plastik ini diolah lebih lanjut agar memberikan nilai ekonomi yang lebih besar,” katanya.
Menjawab alasan memilih Makassar sebagai mitra, Rizal menyebut Kota Makassar telah memiliki ekosistem industri pengolahan sampah plastik yang lebih matang.
“Kalau di Palu kami juga sudah punya. Tapi saya memilih Makassar karena saya melihat langsung perkembangannya, bahkan dari media sosial Pak Wali. Di Makassar ini industrinya sudah jadi, sudah matang. Kalau di kami masih mentah, belum menjadi bahan yang bernilai ekonomi besar,” tuturnya.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memaparkan konsep pengelolaan sampah terintegrasi yang tengah dikembangkan Pemkot Makassar.
Sistem ini tidak hanya berorientasi pada pengurangan sampah, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan nilai ekonomi serta mendukung sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
“Ada bahan yang tidak terlalu laku seperti kemasan sampo dan snack. Tapi di sini sudah ada juga yang mau ambil. Sisa-sisanya ini biasanya kita jadikan bahan kerajinan. Ini yang terus kita dorong,” ungkap Munafri.
Untuk sampah organik, Munafri menjelaskan Pemkot Makassar menerapkan sistem pengolahan berbasis masyarakat hingga tingkat rukun tetangga (RT).
“Untuk organik, kita bikin sistem pengolahan sampah secara integrasi. Nanti yang bekerja itu RT-RT se-Kota Makassar. Setiap RT punya sistem pengolahan sendiri,” jelasnya.
Ia menyebutkan metode yang diterapkan meliputi komposter, eco-enzym, maggot, dan teba, yang hasilnya dimanfaatkan untuk sektor produktif.
“Maggotnya kita bawa ke budidaya ikan dan peternakan ayam, terutama ayam petelur,” ujarnya.
Munafri juga menekankan pentingnya pemilahan sampah di ruang publik dan sekolah, serta pemberdayaan petugas kebersihan jalan melalui pemanfaatan sampah dedaunan.
“Kalau mereka mau jual, silakan. Itu rezeki mereka,” katanya.
Dalam konteks kerja sama lintas daerah, Munafri menilai pembangunan industri pengolahan sampah plastik sebaiknya dilakukan dekat dengan sumber sampah untuk menekan biaya logistik.
“PLTA itu green, murah operasionalnya, dan karbonnya bisa diperhitungkan. Tapi hulunya harus dijaga,” tukas Munafri.
Kerja sama antara Pemkot Makassar dan Pemkab Sigi diharapkan segera ditindaklanjuti untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi.
